English l Peta Situs
Untitled Document
Chrome CSS Drop Down Menu
 
Eropa Pangkas Bujet, Rupiah Tenang Kamis, 17 Juni 2010 - oleh : perbanasadmin

    JAKARTA, Negara-negara Eropa, seperti Yunani, Jerman, dan Perancis makin serius melakukan pemangkasan bujet dalam rangka mengurangi defisit bujetnya. Penyelesaian utang di kawasan Uni Eropa sudah mulai makin kelihatan arahnya.


    "Akibatnya, Pasar agak sedikit tenang, walaupun masih was-was dengan penyelesaian kasus utang yang ada," sebut ekonom Bank Danamon Anton Hendranata.


    Disebutkannya, pada pekan pertama bulan Juni, tekanan terhadap potensi gagal bayar utang di negara-negara Eropa (PIIGS) agak berkurang.


    "Rentang CDS-5 tahun cenderung mendatar dalam seminggu terakhir dan hanya naik tipis, walaupun Moody’s menurunkan peringkat utang Yunani hingga 4 level dari A3 menjadi Ba1, dengan outlook negatif pada tanggal 14 Juni 2010. Bursa saham di Eropa relatif tenang dan cenderung sedikit membaik, begitu juga dengan mata uang euro terhadap dollar AS. Indeks harga saham naik 6,1 persen menjadi 2683 per 14 Juni dari 2530 per 7 Juni, sedangkan Euro menguat 2,5 persen menjadi 1,22 pada periode yang sama," paparnya.


    Kondisi Pasar Eropa yang positif dalam seminggu terakhir ini , lanjut dia, menyebabkan gelombang flight-to-quality menuju asset-aset dollar AS mulai mereda. "Akibatnya, sebagian besar mata uang utama dunia (G6) cenderung menguat terhadap dollar AS," tambahanya.


    Embusan angin yang tenang di kawasan Uni Eropa mampu menyejukkan bursa saham dan mata uang di Asia, termasuk pasar domestik. "Tekanan arus modal keluar mereda di pasar saham dan nilai beli bersih investor asing dalam zona positif. Angin segar ini tentu saja memberikan momentum yang baik untuk rupiah," ujarnya.


    Menurut Anton, dengan melihat tren jangka pendek pergerakan rupiah dan indeks dollar AS, sentimen global terutama di Eropa, dan arus modal di pasar saham dan SBI di Indonesia, rupiah bisa cenderung mendatar atau menguat tipis terhadap dollar AS dalam seminggu ke depan.


    "Namun tetap masih ada resiko terjadinya unwinding lanjutan oleh investor asing dari aset-aset jangka pendek seperti SBI dan saham yang bisa berakibat tertekannya nilai rupiah," demikian Anton.

Kompas

kirim ke teman | versi cetak

 

Berita Lainnya

Bank Kesawan Sudah Siap Untuk Diambil Alih Qatar(QNB)
Ketua Pansus OJK Tak Setuju Jika Nantinya OJK Pungut Iuran
Pencairan Pinjaman BRI Meningkat 22% Jelang Ramadhan
Bank Muamalat Incar Pembiayaan Rp 14,9 Triliun Setelah Rights Issue
Permata Rekrut Tunanetra Jadi 'Telesales'

Tidak ada komentar tentang berita ini
Your Name :
Your Email :
Comment's Title :
Comment :
Security Code : Security Code
Type Code :

Copyright 2009 l www.perbanas.org l All Right Reserved